Jumat, 26 Desember 2014

senjata dari ilmu biologi

Peran Bioteknologi dalam Senjata Biologi


Tapi  yang paling diburu dalam abad ini adalah senjata biologi yang baru- baru ini menggemparkan dunia. Seorang ilmuwan dari Massachute Institute of Technology atau biasanya orang menyebutnya MIT. baru- baru ini membuat senjata biologi berupa bom biologi dimana bom tersebut berisi virus- virus Ebola yang saat ini belum diketahuio obatnya.

Senjata biologi

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Lambang internasional untuk bahaya biologi (biological hazard).
Senjata biologi (bahasa Inggris: biological weapon) adalah senjata yang menggunakan patogen (bakteri, virus, atau organisme penghasil penyakit lainnya) sebagai alat untuk membunuh, melukai, atau melumpuhkan musuh. Dalam pengertian yang lebih luas, senjata biologi tidak hanya berupa organisme patogen, tetapi juga toksin berbahaya yang dihasilkan oleh organisme tertentu. Dalam kenyataanya, senjata biologi tidak hanya menyerang manusia, tetapi juga hewan dan tanaman.
Pembuatan dan penyimpanan senjata biologi telah dilarang oleh Konvensi Senjata Biologi 1972 yang ditandatangani oleh lebih dari 100 negara. Alasan pelarangan ini adalah untuk menghindari efek yang dihasilkan senjata biologi, yang dapat membunuh jutaan manusia, dan menghancurkan sektor ekonomi dan sosial. Namun, Konvensi Senjata Biologi hanya melarang pembuatan dan penyimpanan senjata biologi, tetapi tidak melarang pemakaiannya.

Sejarah

Sejarah penggunaan senjata biologi dimulai pada tahun 400 SM, ketika orang Iran Kuno (scythians) menggunakan panah yang dicelupkan ke dalam feses (kotoran) dan mayat makhluk hidup yang telah membusuk. Hal serupa juga dilakukan oleh bangsa Roma yang mencelupkan pedangnya ke dalam pupuk dan sisa hewan yang telah membusuk sebelum berperang dengan musuhnya. Apabila musuhnya terluka oleh senjata tersebut, maka terjadi infeksi penyakit yang dapat menyebabkan kematian. Peristiwa penting dalam sejarah kuno penggunaan senjata biologi terjadi ketika bangsa Mongol mengusir bangsa Genoa dari kota Kaffa di Laut Mati dengan memanfaatkan mayat-mayat manusia yang terinfeksi wabah pes. Ketika bangsa Genoa menyingkir hingga ke Venice, mereka tetap diikuti oleh kutu dan tikus yang terinfeksi pes sehingga akhirnya menimbulkan "kematian hitam" (black death) di wilayah Eropa.
Pada tahun 1754-1760, terjadi peperangan antara bangsa Britania Utara dan bangsa Indian yang melibatkan penggunaan virus cacar. Ketika itu, Britania Utara memberikan pakaian dan selimut dari rumah sakit yang merawat penderita cacar kepada bangsa Indian untuk memusnahkan bangsa tersebut. Pada Perang Dunia I, Jerman menggunakan dua bakteri patogen, yaitu Burkholderia mallei penyebab Glanders dan Bacillus anthracis penyebab Antrax untuk menginfeksi ternak dan kuda tentara Sekutu. Pada tahun 1932-1935, Jepang mengembangkan program pembuatan senjata biologi di Cina yang dinamakan Unit 731. Sebanyak 3.000 ilmuwan Jepang bekerja untuk melakukan penelitian terhadap berbagai agen biologi yang berpotensi sebagai senjata, misalnya kolera, pes, dan penyakit seksual yang menular. Eksperimen yang dilakukan menggunakan tahanan Cina yang mengakibatkan ± 10.000 tahanan mati pada masa itu . Sejak saat itu, tidak hanya Jepang yang mengembangkan senjata biologi, namun juga diikuti oleh negara-negara lain seperi Amerika Serikat dan Uni Soviet.

Agen Biologi


Bacillus anthracis, salah satu agen biologi penyebab Antrax.
Agen biologi adalah mikroorganisme (atau toksin yang dihasilkannya) yang dapat menyebabkan penyakit pada tanaman, hewan, atau tumbuhan, atau menyebabkan kerusakan material. Dalam pembuatan senjata biologi, agen biologi merupakan komponen penting yang harus diteliti terlebih dahulu sebelum diaplikasikan.Beberapa agen biologi dan penyakit yang pernah direncanakan untuk dijadikan senjata atau sudah pernah dijadikan senjata biologi di dunia antara lain:
just for widening coloum
just for widening coloum

Karakteristik

Karakteristik dari senjata biologi adalah mudah diproduksi dan disebar, aman digunakan oleh pasukan penyerang yang menyebarkannya, serta dapat melumpuhkan atau membunuh individu berulang kali dengan hasil yang sama/konsisten. Hal ini berarti, apabila kita menggunakan senjata biologi yang sama untuk menyerang beberapa daerah berbeda, maka dampak yang terjadi haruslah sama.Agen biologi pada senjata biologi juga harus dapat diproduksi dengan cepat dan murah. Untuk membuat suatu senjata biologi yang berkualitas baik, ada beberapa persyaratan tambahan yang harus dipenuhi, yaitu dapat ditularkan, menimbulkan sakit berkepanjangan yang membutuhkan perawatan intensif, dan gejala yang ditimbulkan bersifat non-spesifik sehingga menyulitkan diagnosis. Umumnya, senjata biologi yang baik juga memiliki waktu inkubasi yang cukup panjang di dalam tubuh penderita sehingga penyakit dapat ditularkan dan menyebar secara luas sebelum dapat terdeteksi.

Klasifikasi

Klasifikasi atau pengelompokkan senjata biologi dapat dilakukan berdasarkan taksonomi, inang, sindrom yang ditimbulkan, efek yang dihasilkan, cara penyebarannya, dan respon praktis atau menurut sifat fungsionalnya. Salah salah klasifikasi yang sering digunakan klasifikasi fungsional yang dibuat oleh Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (Centers for Disease Control and Prevention atau CDC), meliputi:
  • Kategori A
    • penyebarannya dapat dilakukan dengan mudah dan ditularkan dari manusia yang satu ke yang lain;
    • penyebabkan tingkat kematian yang tinggi dan berpotensi memengaruhi kesehatan publik;
    • dapat menyebabkan kepanikan dan gangguan sosial;
    • memerlukan penanganan khusus untuk persiapan kesehatan masyarakat.
    • Contoh kategori A: cacar, antrax, botulisme, dll.
  • Kategori B
    • kemampuan penyebarannya bersifat moderat;
    • menimbulkan tingkat kesakitan yang moderat dan tingkat kematian yang rendah;
    • memerlukan peningkatan kapasitas diagnostik yang spesifik dan peningkatan pengawasan penyakit.
    • Contoh kategori B: brucellosis, demam Q, Glanders, dll.
  • Kategori C, meliputi patogen yang dapat dimodifikasi untuk disebarluaskan di masa depan, karena memiliki karakeristik:
    • ketersediaan memadai;
    • mudah diproduksi dan disebarkan;
    • berpotensi menyebabkan tingkat kematian dan kesakitan yang tinggi, serta mampu memengaruhi kesehatan publik.
    • Contoh kategori C: Virus Hanta, Virus Nipah, demam kuning, dll.

Keuntungan

Penggunaan senjata biologi memiliki beberapa keuntungan dan keunggulan dibandingkan jenis senjata militer lainnya. Beberapa keuntungan pemakaian senjata biologi adalah biaya produksi relatif murah dibandingkan senjata penghancur lainnya, alat dan bahan yang dibutuhkan untuk pertumbuhan agen biologi cukup sederhana, dan waktu yang diperlukan dalam pembuatannya relatif lebih pendek.Secara ekonomis, pembuatan senjata biologi juga menguntungkan karena dapat dibuat vaksin atau penawar dari senjata biologi yang telah diciptakan dengan alat yang sama namun vaksin dapat diperdagangkan kembali dengan harga tinggi. Penyerangan dengan senjata biologi disukai oleh banyak negara karena penyebarannya tidak terdeteksi dan musuh tidak menyadari adanya penyerangan dengan senjata biologi. Selain itu, agen biologi yang hidup di dalam tubuh manusia dapat berkembang biak dan menyebar dari individu satu ke individu lain secara alami. Hal ini sangat mungkin terjadi karena agen biologi (terutama virus) yang disebar tidak terlihat oleh mata telanjang, tidak berbau, dan tidak berasa.Dibandingkan dengan senjata nuklir, senjata biologi lebih unggul karena penggunaannya tidak merusak infrastruktur atau fasilitas yang ada dalam daerah yang diserang, sehingga infrastruktur yang tertinggal dapat dimanfaatkan kembali.

Kerugian

Penggunaan senjata biologi juga memiliki kelemahan yang apabila tidak diperhitungkan secara cermat dapat merugikan. Di antaranya adalah perlunya perhitungan cuaca atau kondisi yang tepat untuk melakukan penyebaran senjata tersebut karena sedikit perubahan arah angin dapat mengakibatkan agen biologi berbalik menyerang diri sendiri. Untuk agen biologi yang disebar melalui udara, waktu tinggal atau ketahanan mereka di udara merupakan hal yang penting untuk diketahui agar tidak terjadi infeksi sekunder pada pasukan penyerang ketika mereka memasuki daerah yang telah berhasil dilumpuhkan/diinfeksi. Pasukan yang bertugas menyebarkan senjata biologi juga harus dilengkapi dengan berbagai alat pelindung karena risiko terinfeksi agen biologi yang digunakan sebagai senjata dapat dialami oleh mereka. Beberapa jenis senjata biologi juga diketahui rentan terhadap radiasi matahari maupun perubahan cuaca sehingga agen biologi dapat terinaktivasi dan tidak dapat berfungsi dengan baik.[ Untuk beberapa jenis senjata biologi seperti itu, biasanya dilakukan penyebaran pada larut malam atau pagi subuh sehingga radiasi matahari tidak akan mengganggu dan agen biologi dapat menyebar pada ketinggian yang rendah dan menyelimuti daerah yang diserang. Kerugian lain dari penggunaan senjata biologi adalah adanya beberapa agen biologi yang dapat bertahan lama di lingkungan (seperti spora Bacillus anthracis) sehingga daerah yang telah diinfeksi tidak dapat dihuni/ditinggali dalam jangka waktu yang cukup lama.

Peran Bioteknologi dalam Pembuatan Senjata Biologi


Bom E120, salah satu senjata biologi yang berisi 0.1 kg agen biologi cair dan dikembangkan pada tahun 1960-an.
Kemajuan ilmu bioteknologi (terutama rekayasa genetika) memiliki dampak negatif dan positif dalam pengembangan senjata biologi. dalam positif yang ditimbulkan adalah munculnya metode dan berbagai cara deteksi, identifikasi, dan neutralisasi agen biologi patogen secara lebih cepat. Berbagai jenis vaksin dan anti-toksin juga telah dikembangkan untuk mengontrol bakteri dan virus patogen yang digunakan sebagai senjata biologi. Modifikasi materi genetik/DNA organisme juga telah diterapkan untuk membuat racun, elemen yang menular, maupun senjata biologi yang mematikan. Data Proyek Genom Manusia (Human Genome Project) juga telah dimanfaatkan untuk meningkatkan sistem pertahanan sipil dan nasional suatu negara dalam melawan penggunaan dan pembuatan senjata biologi serta mengembangkan antibiotik dan vaksin baru.
Kemajuan bioteknologi juga dapat disalahgunakan oleh sebagian orang untuk mengembangkan senjata biologi yang sangat berbahaya, contohnya adalah menghasilkan organisme makroskopis yang secara genetik sudah dimodifikasi untuk memproduksi toksin atau racun berbahaya. Berbagai agen biologi patogen juga dapat direkayasa secara genetik agar lebih tahan atau stabil pada kondisi lingkungan yang kurang menguntungkan dan memiliki resistensi terhadap antibiotik, vaksin, dan terapi yang sudah ada. Selain itu, bioteknologi juga dimanfaatkan untuk pembuatan agen biologi yang tidak dapat dikenali oleh sistem imun atau antibodi tubuh karena profil imunologisnya telah diubah. Apabila senjata biologi yang telah dikembangkan dimanfaatkan untuk bioterorisme atau penyalahgunaan lainnya maka akan timbul kekacauan di dunia.

Daftar Program dan Institusi Senjata Biologi di Berbagai Negara

Amerika Serikat

Inggris

Rusia

Jepang

Irak

Pencegahan dan Pengendalian


Negara partisipan Konvensi Senjata Biologi 2008
  Menandatangani dan meratifikasi
  Menyetujui atau berhasil
  Negara yang belum diakui, menaati perjanjian
  Hanya menandatangani
  Tidak menandatangani
Upaya pengendalian senjata biologi telah dilakukan sejak tahun 1925 melalui perjanjian internasional yang disebut Protokol Geneva (Geneva Protocol) yang memuat larangan penggunaan senjata biologi. Namun, perjanjian itu terbukti masih dilanggar oleh beberapa negara.Oleh karena itu, pada tahun 1972, PBB mengadakan Konvensi Senjata Biologi dan Toksin (Biological and Toxin Weapon Convention atau BTWC) yang mempertegas larangan pengembangan, pembuatan, dan penyimpanan segala jenis senjata biologi. Namun perjnajian tersebut juga masih dilanggar oleh beberapa negara, seperti Rusia dan Irak karena BTWC tidak melakukan pengawasan dan pembuktian tidak adanya kegiatan produksi senjata biologi pada setiap negara. Pada tahun 1995, Ad Hoc membentuk protokol inspeksi dan pembuktian di lapangan yang sayangnya tidak didukung penuh oleh seluruh negara penandatangan perjanjia terdahulu, seperti Amerika Serikat. Pemerintah Amerika memiliki cara sendiri untuk mengendalikan senjata biologi di negaranya, di antaranya melalui produksi vaksin skala besar dan pendistribusiannya serta pengembangan strategi dan taktik untuk mencegah dampak buruk senjata biologi. Melalui Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (Centers for Disease Control and Prevention atau CDC), Amerika meningkatkan kemampuan diagnostik dengan membangun jaringan yang menghubungkan berbagai pusat kesehatan regional sehingga penyakit yang diakibatkan senjata biologi atau bioterorisme dapat dideteksi dengan lebih cepat.
Pada tahun 2008, Konvensi Senjata Biologi (Biological Weapons Convention) membahas tentang peningkatan pemahaman tentang pentingnya mengembangkan keamanan biologi, termasuk di dalam laboratorium yang menggunakan patogen maupun toksin berbahaya. Pada pertemuan tersebut juga dibahas tentang pencegahan penyalahgunaan ilmu biologi dan bioteknologi untuk senjata biologi dengan cara meningkatkan kesadaran akan risiko biologis yang dapat timbul, memperketat pengawasan, serta memberikan pendidikan dan peningkatan bioetika dalam aplikasi ilmu kehidupan.Untuk pengendalian dan pengawasan senjata biologi, telah dilakukan pembuatan data yang berpotensi menjadi senjata biologi. Selain itu, pengembangan molekul anti-bakteri juga telah dilakukan untuk mengeliminasi patogen namun tidak membahayakan manusia dan hewan.

penerapan teknologi dari biologi

BIOLOGI DENGAN TEKNOLOGI

“Biologi adalah ilmu yang mempelajari kehidupan.”
“Teknologi berasal dari kehidupan dan ada untuk mempermudah hidup.”
Siapa bilang ilmu biologi tidak punya kaitan dengan teknologi. Buktinya dengan perkembangan teknologi pada abad ini, ilmu tentang kehidupan makhluk hidup pun secara pasti ikut berkembang. Speperti quote yang tertera di atas, ilmu biologi dan teknologi mempunyai andil yang sama-sama besar untuk saling mendukung. Dengan adanya teknologi kemampuan untuk mempelajari ilmu hayati menjadi lebih mudah. Berbagai penelitian dan eksperimen dapat dipelajari berkat adanya teknologi. Tidak hanya itu, perkembangan teknologi juga tak lepas dari peran berkembangnya ilmu biologi. Apa saja sih kaitannya? Yuk ulas satu-satu.
Berikut ini adalah contoh perkembangan teknologi yang dimanfaatkan dalam bidang biologi:
  1. Hemodialisis – Teknologi untuk Gagal Ginjal

Hemodialisis adalah salah satu cara pengobatan gagal ginjal. Hemodialisis merupakan sebuah alat untuk menggantikan fungsi ginjal yang telah rusak atau tidak berfungsisebegaimana mestinya. Tujuannya adalah untuk mengambil/mengeluarkan cairan berlebih dan sisa metabolisme yang biasanya dikeluarkan oleh ginjal. Prinsip kerjanya adalah, darah pasien dialirkan melalui pipa dengan dinding membran semi permeabel → ginjal artifisial → transfer toksin dan cairan : air, molekul kecil menembus dinding (molekul besar (protein) tidak dapat menembus dinding).
Mekanisme transport solute :
a. Difusi : – kecepatan difusi tergantung pada : besar pori, luas dan tebal membran: temperatur larutan, beda konsentrasi solut, dan berat molekul.
b. Ultrafiltrasi : air dengan tekanan hidrostatik/osmotik didorong menembus membran kesatu arah, membawa bahan terlarut.
p            aa
2.   Radioterapi – Teknologi untuk Kanker Paru Paru
Radioterapi adalah sebuah teknik terapi bagi para penderita kanker yang cukup populer. Radioterapi telah mengalami teknik radiasi yang berkembang dari sejak pertama kali diperkenalkan sampai saat ini.

Kegunaan radioterapi adalah sebagai berikut:
• Mengobati : banyak kanker yang dapat disembuhkan dengan radioterapi, baik dengan atau tanpa dikombinasikan dengan pengobatan lain seperti pembedahan dan kemoterapi.
• Mengontrol : jika tidak memungkinkan lagi adanya penyembuhan, radioterapi berguna untuk mengontrol pertumbuhan sel kanker dengan membuat sel kanker menjadi lebih kecil dan berhenti menyebar
• Mengurangi gejala : selain untuk mengontrol kanker, radioterapi dapat mengurangi gejala yang biasa timbul pada penderita kanker seperti rasa nyeri dan juga membuat hidup penderita lebih nyaman.
h

3.  Test Pack Hepatitis – Teknologi untuk Pendeteksi Hepatitis
Selama ini orang hanya tahu untuk mendeteksi penyakit hepatitis melalui tes darah di laboratorium yang tentu saja harganya sangat mahal. Karenanya banyak orang yang tidak pernah melakukan pemeriksaan. Diharapkan dengan adanya alat tes hepatitis yang cepat dan murah, seseorang bisa mendapatkan perawatan lebih awal. Harga alat ini berkisar Rp 5.000-Rp 10.000 per test pack. Tapi alat ini baru dijual di wilayah Lombok NTB belum menyebar ke seluruh Indonesia.
———–
Tahukah kalian bahwa ada serangkaian teknologi yang dibuat karena terinspirasi dari hewan dan biologi manusia? Misalnya saja rambut-rambut kecil  di kaki tokek menginspirasi robot pendaki dipermukaan vertikal. Permukaan gigi manusia yang tahan benturan mengilhami bahan pesawat luar angkasa yang ringan dan tahan lama. Berikut ini adalah penemuan-penemuan yang terinspirasi oleh  hewan, biologi manusia, dan pemanfaatan efisiensi dari alam.

  • Sebuah Lengan Robot Seperti Belalai Gajah
g
Robotika selalu terikat oleh keterbatasan komputer, tetapi karena teknologi komputer terus berkembang, perhitungan yang lebih kompleks untuk berbagai gerakan yang lebih luas menjadi mungkin. Dan kemampuan yang fleksibel, gerakan lembut telah memberikan cara untuk desain yang lebih maju seperti yang satu ini: sistem penanganan ‘biomechatronic’ baru yang didasarkan pada belalai gajah. Dibuat oleh Festo perusahaan teknik Jerman, robot ini mampu mengangakat beban berat secara halus dengan menggembungkan atau mengempiskan kantung-kantung udara dalam setiap ‘tulang belakang’.

  • Tenaga Matahari Kelelawar Menginspirasi Pesawat Mata-mata
k
Kelelawar tanpa disadari menjadi inspirasi untuk perangkat pengawasan pemerintah. Militer Amerika Serikat menugaskan COM-BAT dari Fakultas Teknik University of Michigan, memberikan mereka, hibah lima tahun $ 10-juta dolar untuk mengembangkan desain. Dilengkapi dengan panel surya transparan di ‘kepala’ nya, pesawat mata-mata 6-inci memiliki sayap berbentuk seperti mamalia terbang. Pesawat harus mampu mengumpulkan data dalam jumlah besar sementara berjalan pada hanya 1 watt daya.

  • Kereta Peluru Memiliki Hidung Seperti Paruh Kingfisher
b
The kingfisher atau burung kingfisher memiliki kemampuan dapat menyelam ke dalam air dari udara tanpa membuat percikan,  berkat bentuk paruhnya yang sangat efisien. Insinyur dan penggemar burung Nakatsu Eiji menyadari bahwa bentuk yang sama bisa memecahkan masalah yang menjengkelkan yang dihadapi oleh kereta ultra-cepat Jepang, yang menciptakan suara menggelegar keras seperti gemuruh guntur setiap kali mereka keluar dari terowongan. Hidung kereta itu mendorong udara pada kecepatan tinggi, menciptakan dinding angin yang tidak saja membuat suara keras, tetapi juga memperlambat kereta. Hidung, kereta api The kingfisher mengionspirasi menghilangkan masalah ini, membuat bahan bakar kereta api lebih efisien 20 Persen.
  • Super Komputer Terinspirasi Otak Kucing
kc
Tentu teknisi komputer telah berkembang banyak dalam beberapa tahun terakhir – tetapi bahkan superkomputer masih tidak bisa mengenali wajah-wajah manusia seperti kucing yang bisa mengenali wajah manusia. University of Michigan memutuskan untuk mempelajari otak kucing dalam rangka untuk mengembangkan komputer cerdas. Idenya adalah bahwa komputer saat ini menjalankan kode secara linear, sebagai lawan dari otak mamalia, yang dapat mengolah banyak hal sekaligus. Lu sedang dalam proses mengembangkan elemen sirkuit yang berperilaku seperti sinapsis biologis. Ini ‘memristor’ dapat mengingat tegangan masa lalu yang melewatinya dengan cara yang mirip dengan memori dan belajar di otak. Mengapa kucing? Komputer insinyur Wei Lu mengatakan itu hanyalah tujuan yang lebih realistis daripada meniru otak manusia.

  • Navigasi Sonar Kelelawar Membantu Tunanetra Mengenali Sekitarnya
index               index 2
Ultracane adalah sebuah alat yang digunakan tunanetra untuk “melihat” atau mengenali obyek-obyek sekitarnya. Ultracane tidak akan mungkin dapat melakukan itu tanpa mempelajari cara kelelawar berkeliling di kegelapan. Dengan cara yang sama bahwa kelelawar bisa “melihat” dalam gelap dengan menggunakan gema ultrasonik yang mengungkapkan lokasi rintangan, Ultracane memperingatkan tunanetra obyek yang ada dijalur mereka. Sejumlah sensor pada cane malah membuat mungkin bagi pengguna untuk pengertian objek lebih tinggi dari ketinggian kepala.

  • Chip Radio yang Meniru Telinga Manusia
Chip radio yang satu ini lebih cepat daripada penganalisa frekuensi spektrum radio-rancangan manusia, chip radio ini juga membutuhkan daya yang sangat sedikit untuk beroperasi. Bagaimana itu mungkin? Desain didasarkan atas telinga manusia. peneliti MIT melihat cara koklea mengkonversi gelombang suara menjadi sinyal listrik yang dikirim ke otak. Gelombang suara menciptakan gelombang mekanik dalam cairan dari telinga bagian dalam, yang mengaktifkan sel-sel rambut kecil yang memfasilitasi sinyal listrik. Rahul Sarpeshkar menggunakan prinsip desain yang sama di dalam chip radio koklea buatannya, yang akan membuat perangkat nirkabel mungkin dapat menerima telepon seluler, internet, sinyal radio dan televisi.
“Semakin saya mulai mencari di telinga, semakin saya menyadari ini seperti sebuah radio super dengan 3.500 saluran paralel,”kata Sarpeshkar.

  • RoboSwift Micro-Airplane, BUKAN Burung Biasa
r
Penemuan yang satu ini akan membuat kalian paranoid bahwa makhluk terbang sedikit di atas rumah bukan burung biasa atau kelelawar. The RoboSwift, seperti tersirat dengan namanya, didasarkan pada burung walet, keluarga burung yang mampu terbang sangat cepat. Dikembangkan oleh Delft University of Technology, RoboSwift dilengkapi dengan kamera pengamatan yang dapat digunakan baik untuk mempelajari burung, atau mungkin untuk pengawasan aktivitas manusia.

  • Stickybot: Kaki Tokek Inspirasi Robot Pemanjat
t
Bagaimana bisa robot mendaki permukaan halus seperti kaca tanpa menggunakan gelas isap, yang lambat dan tidak efisien? Rahasianya terletak pada desain rumit dari sebuah jari kaki tokek. Mark Cutkosky, seorang profesor teknik mesin di Universitas Stanford, mengembangkan ‘Stickybot’ dengan perekat kering jenis yang sama  yang memungkinkan mereka melekat pada permukaan yang paling mustahil. Ini ‘perekat arah’ bergantung pada jutaan bulu pada punggung kaki tokek.
“Perekat lain semacam iniseperti berjalan-jalan dengan permen karet pada kaki Anda: Anda harus menekan ke permukaan dan kemudian Anda harus bekerja untuk menariknya keluar. Tapi dengan adhesi terarah, hampir seperti Anda dapat semacam kail dan diri Anda melepas kaitan dari permukaan, “kata Cutkosky ScienceDaily.
  • Tanduk Rusa Menginspirasi Bahan Dasar Super Kuat
Apa yang membuat tanduk rusa sangat kuat? Para ilmuwan di Universitas York di Inggris yang tidak tahu persis bagaimana tingkat kelembaban di tanduk rusa mempengaruhi kekuatan mereka. Mereka mempelajari tanduk yang dipotong tepat sebelum tahap ketika rusa mulai duel, ketika mereka perlu tanduk mereka berada di terkuat mereka, dan menemukan bahwa selama periode ini, tanduk mengering. Kering, bahan kaku biasanya rapuh dan mudah pecah, tetapi tanduk rusa terbukti 2,4 kali lebih kuat dari tulang basah. Ini tampaknya telah memecahkan masalah yang membingungkan untuk insinyur: membuat bahan yang bersifat kaku dan tangguh. Struktur tanduk rusa kemungkinan akan menjadi dasar bahan industri yang sangat tahan lama.
  • Struktur Gigi Manusia dan Teknologi Aerospace
Gigi kami kuat seperti kaca – jadi bagaimana mereka bisa bertahan hampir seumur hidup mengunyah semua jenis makanan keras? Para peneliti di Tel Aviv University memeriksa ribuan gigi manusia yang diekstrak dan menemukan struktur yang sangat canggih yang membuat bagian luar gigi kita membentuk jaringan retakan mikro, bukan yang besar. Ini retak kecil kemudian akan mampu menyembuhkan diri dari waktu ke waktu. Jika insinyur dapat menemukan cara untuk meniru ini, struktur berlapis-lapis dalam bahan sintetis, mereka bisa mengembangkan pesawat yang tahan benturan dan lebih ringan, meskipun sifat penyembuhan diri sendiri mungkin jauh dari realisasi.
  • Lensa Kontak Masa Depan Terinspirasi oleh Mata Tokek
Kaki bukan satu-satunya bagian anatomi tokek yang menginspirasi ilmuwan. Para ilmuwan telah menemukan bahwa tokek memiliki serangkaian zona konsentris yang berbeda di mata mereka yang memungkinkan mereka untuk melihat warna di malam hari, beberapa mahluk lain juga punya kemampuan sama. Zona ini memiliki kekuatan bias yang berbeda, memberikan tokek sistem optik multifokal yang memungkinkan cahaya dari panjang gelombang yang berbeda untuk fokus pada retina pada waktu yang sama. Hal ini membuat mata mereka 350 kali lebih sensitif daripada mata manusia, dan memungkinkan mereka fokus pada objek pada jarak yang berbeda. Penemuan ini memungkinkan para insinyur untuk mengembangkan kamera yang lebih efektif dan bahkan mungkin lensa kontak multi-fokus.
  • Mata Manusia Menginspirasi Kamera dengan Bidang Lihat yang lebih luas
Permukaan melengkung mata manusia memfasilitasi bidang pandang yang lebih luas daripada kamera. Tantangan bagi insinyur adalah untuk mentransfer komponen mikroelektronik ke permukaan melengkung tanpa melanggar mereka. Yonggang Huang dari Northwestern University dan John Rogers dari University of Illinois membangun sebuah  bentuk kamera digital, ukuran yang sama dan tata letak mata manusia, dan mengembangkan bahan mesh-seperti yang memegang komponen elektronik ke permukaan melengkung. Teknologi ini akan memungkinkan foto-foto yang benar-benar jelas dan terfokus, tidak seperti kamera hari ini yang bisa fokus hanya pada area tertentu. Bahkan mungkin memungkinkan membuat retina buatan atau mata bionik.
Jadi, biologi dan teknologi ternyata punya hubungan yang saling menguntungkan. Saya harap bidang teknologi yang berlandaskan ilmu sains akan makin berkembang.


Sumber:
Share